![]() |
| sumber: dari sini |
Minggu lalu gw kelar nonton film lokal yang judulnya “Tanah Surga...Katanya”. Film satir luar biasa menggigit, produksi patungan Deddy Mizwar dan Aa Gatot Brajamusti yang dulu terkenal pas heboh perceraian Reza dan Alm. Adjie Massaid (loh, kok jadi bahas gosip? Fokus Elsa….fokus…). Film ini disutradarai oleh Herwin Novianto.
Tanah Surga...Katanya kurang publikasi (mungkin masalah keterbatasan dana), jadi cuma sedikit yang tau keberadaannya. Dan setelah kurang lebih 3 minggu tayang di jaringan bioskop 21, dia pun harus turun layar.
Tanah Surga...Katanya kurang publikasi (mungkin masalah keterbatasan dana), jadi cuma sedikit yang tau keberadaannya. Dan setelah kurang lebih 3 minggu tayang di jaringan bioskop 21, dia pun harus turun layar.
Gw yakin film ini gak balik modal, atau malah lebih parah, merugi.
Jadi….karena dia udah gak tayang di bioskop lagi, gw mau menceritakan film ini dengan bebas, dengan spoiler dimana-mana. Semoga filmnya akan beredar dengan format DVD. Yang berminat beli DVDnya, silakan STOP baca sampe disini yaaa….
Tanah Surga...Katanya, mengambil setting di Kalimantan Barat, bukan di ibukota provinsi, Pontianak, tapi di perbatasan antara Indonesia dan Malaysia. Nama daerahnya Kabupaten Kubu Raya (kalau gak salah). Banyak “berita lama” tertuang dengan sangat menyakitkan disini. Fokusnya tentang ketidak pemerataan pembangunan.
Gw sudah dengar isu ini sejak lama. Gw tundukkan muka gw dalam2, malu teramat malu, karena walaupun gw tau, karena gak ngerasain sendiri, gw tidak pernah peduli. Alasan macam apa itu?
Kubu Raya punya alam yang gak kalah Indah dibanding daerah-daerah lain di Indonesia. Tapi kepedulian pemerintah kita sangat minim. Untuk masalah akses jalan aja, di film itu digambarkan sangat buruk. Kita harus keluar masuk hutan, karena gak ada jalan. Untuk ke rumah sakit harus menyeberangi sungai dengan perahu dan harga sewa perahunya pun sangat mahal. Sedangkan di tempat yang sama tetapi milik negara tetangga, sudah beraspal.
Walaupun terletak di Indonesia, mata uang yang dipake ringgit, rupiah gak laku, malah dikira uang palsu. Untuk bertahan hidup, saudara sebangsa tapi gak senasib sama gw itu disana harus sangat mengais2 rezeki. Banyak yang mencari makan ke Malaysia, membuat kerajinan lalu dijual ke tetangga, lalu dibayar dengan ringgit. Sembako pun dari Malaysia, karena produk Indonesia harganya mahal. Jadi, jangan salahkan mereka kalau taunya ringgit. karena mereka butuh ringgit untuk hidup. Rupiah? Apa itu???
Penduduknya banyak yg bermigrasi ke tetangga, kewarganegaraan pun diganti. Disana lebih nyaman dan fasilitas lebih lengkap. Bagaimana kita bisa menghakimi mereka tidak nasionalis?
Kubu Raya cuma punya satu sekolah, itu pun SD. Gurunya satu, ruang kelasnya pun satu, untuk kelas 3 dan 4. Papan tulis kapur ditengah ditarik garis lurus, sebelah kiri untuk kelas 3, kanan kelas 4. Anak-anak tidak bisa belajar dengan maksimal, karena sarana & prasarana serba terbatas. Hasil ujian banyak yang dapet nol, yang paling tinggi nilainya 4. Bukan karena mereka bodoh…bukan…
Mimpi anak-anak itu sangat indah dan beraneka ragam, ada yang mau jadi presiden katanya, mau membawa perubahan katanya…dan gw pun terharu :’(
Anak-anak SD itu tidak tau lagu Indonesia Raya, tidak tau bendera merah putih, tidak tau upacara bendera. Tidak ada yang mengajarkan…
Sampai akhirnya, daerah itu kedatangan dokter baru. Dokter Anwar (Ringgo Agus Rahman) namanya, tapi penduduk di sana memanggilnya dokter Intel. Dia datang menggantikan dokter lama yang baru saja meninggal dunia. Jangan bayangkan dia datang dengan peralatan kesehatan yang memadai ya. Cuma berbekal stetoskop, alat ukur tensi, dan obat-obatan berkotak-kotak. Tidak ada klinik, Pak Dokter menumpang tinggal di rumah sederhana Pak Bupati.
Pak Dokter bantu mengajar murid-murid SD itu disaat Bu Guru Astuti (Astri Nurdin) harus ke kota mengambil gaji. Terkaget-kagetlah dia dengan pengetahuan minim murid-muridnya. Jauh banget di bawah standar anak SD di Jakarta, ya Dok?
Setelah Pak Dokter ngobrol dengan Bu Guru, murid-murid SD lalu diajarkan lagu Indonesia Raya. Bu Guru berkeliling kabupaten, mencari bendera merah putih, akhirnya dapet dari Pak Hasyim. Disimpan dengan hati-hati oleh beliau, bendera pusaka yang sudah puluhan tahun tidak dikibarkan. Akhirnya, diselenggarakanlah upacara bendera. Sang Saka Merah putih melambai kokoh di tiang bendera diiringi lantunan suara murid-murid SD yang menyanyikan lagu Indonesia Raya. Air mata gw pun meleleh…
Peran utama di film ini adalah anak kecil (kelas 4 SD) bernama Salman (Osa Aji Santoso). Ibunya sudah meninggal. Ayahnya bernama Haris (Ence Bagus), sudah menikah lagi dengan orang Malaysia dan tinggal disana. Haris ingin membawa keluarganya pindah ke tetangga, karena kehidupan disana lebih baik. Tapi Hasyim (Fuad Idris), ayah Haris yang sudah tua dan sakit-sakitan tidak setuju. Hasyim mantan pejuang. Dia cinta negeri ini, walau sebesar apapun dia telah dikecewakan. Karena Hasyim tidak setuju, pergilah Haris ke Malaysia dengan membawa anaknya yang bungsu. Salman tinggal di Indonesia, dengan kakeknya.
Salman bekerja sepulang sekolah, membuat kerajinan lalu dijual ke negeri tetangga. Penghasilannya ditabung untuk membayar biaya perahu yang akan digunakan untuk menyeberangkan kakek Hasyim berobat ke kota. Dia butuh 400 ringgit.
Dari salah satu kunjungannya ke pasar di negeri tetangga, Salman liat bendera merah putih dijadikan alas barang dagangan. Dia tersinggung lalu protes, tapi malang dia malah diusir.
Di rumah, Salman liat sarung Hasyim sudah sangat usang dan berlubang-lubang. Saat bepergian ke tetangga sambil menjual barang dagangan, diniatkannya untuk membeli sarung. Dia beli dua, satu untuk kakeknya, satu lagi untuk bapak pedagang yang memakai bendera merah putih sebagai alas dagangan. Dia barter. Pedagang menerima sarung dengan senang hati. Salman pun girang luar biasa, pulang dengan berlari dan melambaikan bendera pusaka.
Sakit Hasyim makin parah. Harus segera dibawa ke rumah sakit. Pergilah Salman dan Hasyim, dengan dianter Pak Dokter dan Bu Guru, ke kota dengan menaiki perahu. Di tengah jalan, Hasyim menyerah dan menghembuskan nafasnya yang terakhir, diiringi teriakan dan tangisan pilu cucu kesayangannya. Sementara di seberang sana, Haris, anaknya, sedang memekikkan kegembiraannya atas kemenangan Tim Harimau Malaysia menekuk Tim Garuda Indonesia di final Piala AFF. Ironis...
Apa yang gw rasa habis nonton film ini?
MARAH
Marah dengan ketidakmampuan pemerintah untuk melakukan pemerataan pembangunan. Di Jakarta berdiri dengan megah gedung-gedung pencakar langit, sekolah-sekolah bertaburan, mall-mall yang tidak perlu berdiri di tiap sudut jalan. Sedangkan disana, jalanan beraspal aja gak ada, sekolah cuma satu, dengan kondisi yang memprihatinkan pula. Belum lagi kesulitan ini itu ini itu yang udah gw ceritain di atas, ngenes.
Marah dengan KORUPTOR. Tiap gw abis nerima gaji , trus liat potongan untuk pajak, trus inget pajak itu dikemplang sama Gayus dan komplotannya, rasanya sakit ati banget. Itu gw loh ya, yang dengan dipotong pajak pun, masih mampu hidup layak sehari-hari dan menabung. Dan kalau potongan pajak gw itu gak dikorupsi dan benar-benar digunakan untuk pembangunan negeri ini, gw ikhlas kok. Malah itu harus. Nah ini, wakil rakyat kok tega banget, makan uang rakyat dan berfoya-foya dengan itu, disaat orang-orang yang haknya dia makan itu hidup dengan susahnya, dan hampir tidak ada yang menolong?
Wahai para koruptor, SADARLAH…TOBATLAH…KEMBALIKAN HAK MEREKA…JADI BERGUNALAH…sebelum kamu semua membusuk di neraka jahanam milik Allah SWT, amin.
MALU
Gw denger soal ketidakpemerataan pembangunan ini udah lama. Cuma denger doang. Apakah gw mencoba memvisualisasikan berita-berita itu? Tidak. Apakah gw mencoba mencari tau lebih dalam? Tidak. Apakah gw melakukan tindakan untuk membantu? Tidak. Gw marah-marah ke pemerintah, tapi gw sendiri berpangku tangan. Gak malu, Sa? Malu bangettttt….Sekarang gw lagi merencanakan sesuatu, mudah-mudahan ada gunanya. Bismillah….
SAKIT HATI
Gw beruntung terlahir di keluarga yang tidak kekurangan dan di kota dengan fasilitas yang lumayan memadai. Bedanya gw sama mereka cuma itu. Kami sama-sama Warga Negara Indonesia, tapi kenapa perlakuannya begitu berbeda? Sakit hati gw melihat penderitaan mereka yang tergambar dalam film ini. Sesak napas gw menyaksikan ketidakadilan yang mereka alami. Hangat hati gw melihat mereka masih bersemangat dan masih mencintai negeri ini….
PEMERINTAH, BANGUNNN!!!
RAKYAT INDONESIA YANG PUNYA NASIB LEBIH BAIK, BUKA MATA!!!! AYO BERGERAK!!!
KORUPTOR, TOBATTT!!!
TOLONG PERBAIKI NEGERI INI
TOLONG BANTU SAUDARA2 KITA DI PELOSOK-PELOSOK NEGERI. MEREKA BUTUH BANTUAN KITA
DEMI MEREKA, DEMI KITA, DEMI NEGERI KITA TERCINTA, INDONESIA JJJ
*Tulisan yang satu ini khusus gw buat dalam bahasa yang gw gunakan sehari-hari, bahasa paling gw cintai dan paling gw kuasai, BAHASA INDONESIA.

Waahhh..baru tau ada film ini..uda ga diputer lagi ya? :(
BalasHapusgapapa deh klo gitu baca spoilernya,,
iya Ei, filmnya bagus banget. memang siy filmnya udah gak bisa ditonton di bioskop, tapi masi bisa liat trailernya disini
BalasHapushttp://www.21cineplex.com/video/trailer/tanah-surgakatanya,2906.htm
semoga ntar beneran keluar dvdnya ya, amin
akhirnya spoiler juga nih gara-gara penasaran jadi diterusin bacanya hehehe, lagian udah ga diputer di bioskop..telat :( , sayangnya film kaya gini kaya ditelen bumi gitu aja ya, bahkan baru tau pas elsa nyuruh nonton, yaa..semoga suatu saat nanti film ini bisa booming karena banyak yang ngomongin
BalasHapusuwaaw..baca spoilernya aja mata ini sudah berasa hangat-hangat gimana gitu..hikz
BalasHapus^^ thanks for sharing sa..
Semoga beneran kluar DVD nyaaa..pengen nonton
#telatbgt#
Mbak Dika & Sigit, spoiler alertnya gak ngaruh ya? hihihi...iya semoga ntar ada DVDnya ya. kalau ada, jangan lupa beli yang original. halah...halah...*tetep promosi*
BalasHapus